adab bertanya dan menjawab
BerandaFiqih/ ADAB MAKAN DAN MINUM 1. Fiqih ADAB MAKAN DAN MINUM 1. Jum 19 Safar 1428H 9-3-2007M. 0 282 . Seorang A’rabi (badui) bertanya: “Duduk apa ini, wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam” Beliau menjawab: “Sesungguhnya aku dijadikan oleh Allah sebagai hamba yang dermawan dan Allah tidak menjadikan aku seorang yang
1 Adab terhadap orangtua. Orang tua merupakan sosok yang paling dekat hubungannya dengan anaknya. Pengorbanan orang tua sungguh tiada tara, mereka mendidik kita dan menyerahkan hidupnya untuk keselamatan anaknya. Islam mengajarkan agar seorang anak untuk selalu menaati orang tuanya selama tidak bertentangan dengan agama.
Adab Beranda Tazkiyah Adab. Menyajikan artikel seputar adab. Alasan Logis Mengibaskan Tempat Tidur Ketika Hendak Tidur. M. Sholich Mubarok-13 September 2017 0. Tata Cara Menjawab Salam Bagi yang Mendapat Titipan Salam. M. Sholich Mubarok-12 September 2017 0. Jangan Bertanya Fee kepada Ustadz. Minal Aidin Wal Faizin dan 20 Ucapan Hari
gan,mau nanya apa ada obat untuk telapak tangan dan telapak kaki berkeringat ?
bilamasalah pribadi maka sbaiknya anda bertanya ke email pribadi saya : munziralmusawa@ email ini padat dengan puluhan pertanyaan dan curhat setiap hari, maka mohon maaf beribu maaf bila saya menjawab terlambat beberapa hari, tapi Insya Allah pasti saya jawab bila saya mengetahui jawabannya, dan saya beri jalan keluar dg
NASKAHPIDATO. Tema Kejujuran. Assalamualaikum wr.wb. Yang saya hormati, Seluruh Bapak Kepala Sekolah. Yang saya hormati, Bapak/Ibu Guru Yang Telah Mendidik Kami. Serta teman-teman seperjuangan yang saya banggakan. Marilah kita bersama sama memanjatkan rasa puji syukur kita ke hadirat Allah SWT karena berkah dan karunia-Nya kita
Aisyahmenjawab, "Dua sayap." Beliau bertanya lagi : "Kuda mempunyai dua sayap!" Aisyah menjawab : "Tidakkah Engkau pernah mendengar bahwa Nabi Sulaiman mempunyai kuda yang punya banyak sayap?" Aisyah berkata :"Beliau lalu tertawa hingga aku dapat melihat giginya." [HR. Abu Daud no. 4932 dan An Nasai dalam Al Kubro no. 890.
Diriwayatkan dari Imam Ahmad rahimhullah bahwa seorang lelaki bertanya kepadanya: “Aku ingin menuntut ilmu tapi ibuku mencegahku untuk mewujudkan keinginanku, dia ingin agar aku menyibukkan diri dengan berdagang. Beliau menjawab: “Hendaklah dia tetap tinggal di rumahnya, dan di kampung halamannya, serta janganlah kamu meninggalkan
ByTaruna Bahtera — Senin, 14 Maret 2016 — Add Comment — Adab , Ilmu , PAI. Syeikh az-Zarnujiy, dalam pengantar kitab ta’lim al-muta’allim, menjelaskan bahwa banyak pelajar yang bersungguh-sungguh dalam belajar, namun tidak mendapatkan buahnya ilmu. Apakah buah ilmu itu? buah ilmu adalah “mengamalkan ilmu” dan“menyebarluaskan
ADABORANG BERILMU. “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh berbuat yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah”. (Q.S. Ali Imrân [3]: 110) Menjadi umat pilihan yang mendapatkan keuntungan lebih banyak dari umat lain adalah suatu anugrah dari Allah.
. sumber jawab adalah hal yang sering kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketika kita bertanya ke guru dan dosen kita atau ketika bertanya arah jalan ke orang asing di jalan, dan sebagainya. Kalau kita tidak tahu, kita bertanya ke yang lebih tahu. Kalau kita lebih tahu, maka kita memberi ilmu kepada yang belum tahu. Nah, ternyata dalam melakukan kegiatan tanya jawab, kita tidak boleh sembarangan, ada adab yang perlu diperhatikan dalam bertanya dan menjawab. Dalam Islam kita mengenal yang namanya akhlak. Saat kita bertanya pada seseorang, mereka berkedudukan sebagai alim dan kita sebagai fakir dalam hal ilmu. Allah berfirman mengenai hal iniفَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَArtinya “Maka tanyakanlah kepada orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui” QS. An-Nahl ayat 43Sering kita lihat di media sosial, orang yang bertanya meninggalkan prinsip akhlak dengan cara meremehkan jawaban karena dirasa tidak berbobot. Sedangkan yang menjawab pun meninggalkan prinsip ilmu, merasa jawabannya sudah paling sedikit cerita yang dapat menjadi inspirasi bagi kita, dari penulis buku "Ngaji Fikih" yang ketika itu beliau sedang mengantre giliran untuk bertanya di rumah Gus Dur. Kemudian beliau bertanya mengenai sejumlah fatwa NU. Jawaban dari Gus Dur justru tidak terduga, “Tanyakan saja hal tersebut kepada Said Aqil Siradj!”Dengan penuh hormat beliau memilih untuk mundur setelah mendapat jawaban tersebut. Lalu datanglah Nusron Wahid yang bertanya pada Gus Dur mengenai suatu peristiwa di Indonesia, Gus Dur kemudian menjawab, “Saya tidak tahu, jangan tanya saya soal itu!”Nah, kira-kira itulah gambaran ketika kiai memberi jawaban. Mereka enggan merasa paling tahu akan suatu hal, sehingga memilih untuk mengaku bahwa mereka kurang bagaimana adab untuk orang yang mengajukan pertanyaan? Pertama, kita harus berprinsip bahwa ketika kita bertanya secara tatap muka maupun lewat media sosial, artinya kita sedang meminta dan menyita waktu seseorang untuk memberi jawaban ke kita. Jadi, jangan terburu-buru untuk menagih jawaban dari mereka. Kedua, kita tidak boleh memaksa apabila seseorang tidak menjawab, mungkin saja mereka memiliki kesibukan lain sehingga tidak sempat untuk memberi jawaban. Mereka tidak memiliki kewajiban untuk menjawab pertanyaan kita. Menjawab pertanyaan adalah sedekah, karena telah membantu orang lain yang awalnya belum tahu menjadi apa pun jawaban yang diberikan, syukuri dan hargai itu. Meski jawabannya singkat, atau mungkin kita tidak cocok dengan jawaban tersebut, tetap saja kita harus menjaga akhlak dan adab kita sebagai penanya. Jangan marah-marah kalau kita tidak puas dengan jawaban tersebut. Kalau memang belum puas dengan jawaban tersebut, boleh saja untuk menanyakan pada orang lain yang kita bertanya kepada seseorang itu berarti kita percaya bahwa mereka lebih tahu tentang hal tersebut. Jangan bersikap seolah-olah kita lebih paham kemudian mengajak debat dengan Qayyim pernah menjelaskanﺇﺫﺍ ﺟﻠﺴﺖ ﺇﻟﻰ ﻋﺎﻟﻢ ﻓﺴﻞ ﺗﻔﻘﻬﺎً ﻻ ﺗﻌﻨﺘﺎً“Jika anda duduk bersama seorang ahli ilmu, maka bertanyalah untuk menuntut ilmu bukan untuk melawan.”Memang, kritis dalam bertanya itu perlu tapi harus diterapkan konsep sopan santun juga dalam bertanya. Kalau memang kita tidak mempercayai jawaban mereka, kenapa kita bertanya?Kelima, jangan membanding-bandingkan jawaban seseorang di depan orang yang menjawab pertanyaan kita. Misalnya ketika seseorang menjawab pertanyaan kita, lalu kita membalas, “tapi pendapatmu berbeda dengan si A”. Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar. Bahkan, seorang kiai pun bisa saja berselisih pendapat antara satu sama lain! Maka, kita bisa tampung dulu jawaban-jawaban yang berbeda tersebut, lalu tanyakan pendapat orang lain lagi, jadi kita bisa tahu mana pendapat yang lebih kuat dan lebih sebagai umat Islam yang berpegang teguh pada prinsip akhlak dalam Islam, sudah kewajiban kita untuk melakukan kegiatan tanya jawab. Berbagi ilmu walaupun sedikit saja pahalanya besar. Salah satu hadis riwayat Bukhari, dari Abdullah bin Amr, Nabi Muhammad SAW. bersabda “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat."Referensi/Daftar Pustaka